BNPB: Ratusan Ribu Jiwa Terkena Dampak Banjir Semarang

BNPB: Ratusan Ribu Jiwa Terkena Dampak Banjir Semarang

Advertisement

Dampak Banjir di Kota Semarang

Banjir yang terjadi di Kota Semarang, Jawa Tengah, telah menimbulkan dampak yang signifikan terhadap masyarakat setempat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa puluhan ribu jiwa terdampak oleh banjir tersebut. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan informasi ini melalui keterangan tertulis di laman BNPB.

Dua kecamatan di Kota Semarang, yaitu Genuk dan Pedurungan, masih tergenang air dengan ketinggian antara 15 hingga 60 sentimeter. Hingga Jumat (24/10/2025), sebanyak 4.265 jiwa dari 1.697 kepala keluarga di Kecamatan Genuk dan 33.915 jiwa dari 11.260 kepala keluarga di Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, terdampak banjir kali ini.

Meskipun demikian, hingga Jumat (24/10) pukul 18.00 WIB, belum ada laporan warga yang harus mengungsi. Menurut Muhari, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mengguyur sejak pertengahan pekan ini menjadi pemicu utama banjir di wilayah perkotaan. Sistem drainase yang tidak mampu menampung debit air hujan membuat aliran air meluap ke permukiman.

Kondisi tersebut diperparah dengan luapan Sungai Tenggang yang melintas di kawasan padat penduduk. Akibatnya, genangan muncul di sejumlah titik penting kota seperti di Bangetayu Kulon, dengan ketinggian air mencapai 20 hingga 50 sentimeter. Di Banjardowo, Gebangsari, dan Genuksari, genangan rata-rata 15 sampai 60 sentimeter. Sementara di kawasan Jalan Nasional Kaligawe, air setinggi setengah meter membuat lalu lintas tersendat dan truk-truk besar terjebak hingga lebih dari 24 jam.

Di depan RSI Sultan Agung, air bahkan mencapai 80 sentimeter, mengharuskan petugas mengevakuasi sejumlah pasien ke tempat yang lebih aman. Sejumlah upaya juga telah dilakukan untuk mengendalikan banjir, termasuk memasang pompa-pompa pengendali banjir.

Di Rumah Pompa Tenggang, enam unit pompa disiapkan, namun hanya dua yang beroperasi karena empat lainnya tengah dalam proses peningkatan dari sistem diesel ke listrik. Dua pompa apung berkapasitas 2.000 liter per detik serta dua pompa mobile berkapasitas 500 liter per detik turut membantu mempercepat aliran keluar air.

Sedangkan di Rumah Pompa Sringin, beroperasi dua pompa utama dan dua pompa mobile, sementara tiga unit lainnya sedang dalam perbaikan. BPBD Provinsi Jawa Tengah juga mengerahkan pompa tambahan berkapasitas 250 liter per detik, disusul tujuh unit pompa dari Pusdataru Jawa Tengah yang memperkuat upaya di lapangan.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar