
Banjir di Tolitoli, Sulawesi Tengah Mengancam Kehidupan Warga
Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah sejak Minggu (26/10) sore menyebabkan luapan sungai dan menenggelamkan sejumlah permukiman warga di dua kelurahan padat penduduk, Tuweley dan Tambun. Tim siaga dari Sub Seksi Operasi dan Siaga SAR Tolitoli langsung dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak, termasuk seorang santri yang tengah sakit.
Kepala Sub Seksi Operasi dan Siaga SAR, Rusmandi, SE, menjelaskan bahwa pihaknya sejak sore telah memusatkan upaya penyelamatan di dua lokasi tersebut. Kami fokus mengevakuasi warga yang paling berisiko, terutama anak-anak dan lansia. Sejumlah warga juga kami ungsikan karena ketinggian air terus bertambah, ujar Rusmandi melalui laporan singkat, Minggu malam.
Banjir kali ini disebut sebagai salah satu yang terbesar di tahun 2025 di kawasan pesisir utara Sulawesi Tengah. Air dengan cepat meluap dari aliran Sungai Bajugan di Kecamatan Galang setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur selama lebih dari tiga jam.
Laporan resmi yang diterima BPBD Provinsi Sulawesi Tengah mencatat, banjir mulai terjadi sekitar pukul 15.27 WITA. Tiga jam kemudian, tepat pukul 18.13 WITA, laporan darurat diteruskan ke tingkat provinsi dan nasional.
Curah hujan ekstrem menyebabkan sungai tidak mampu menampung debit air. Rumah-rumah warga di bantaran sungai kini terendam hingga setinggi pinggang orang dewasa, tulis laporan tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, Dr. Ir. H. Akris Fattah Yunus, MM, dalam surat resmi kepada BNPB dan jajaran kementerian terkait, melaporkan bahwa penanganan darurat telah dimulai. Assessment lapangan sudah dilakukan dan koordinasi dengan BPBD Kabupaten Tolitoli tengah berjalan, kata Akris.
Meski hingga Minggu malam belum ada laporan korban jiwa, kondisi di lapangan disebut masih rawan. Hujan yang belum berhenti membuat genangan air sulit surut. Arus di beberapa titik bahkan terpantau cukup deras sehingga menghambat proses evakuasi.
Tim gabungan yang terdiri dari personel BPBD, SAR, dan relawan lokal bekerja di bawah guyuran hujan. Mereka menggunakan perahu karet untuk mengevakuasi warga dari rumah-rumah yang terendam di kawasan Tambun dan Tuweley.
Salah satu warga, Nur Aisyah (38), menceritakan bagaimana air tiba-tiba masuk ke rumahnya tanpa sempat disadari. Air datang cepat sekali. Kami hanya sempat menyelamatkan surat-surat dan pakaian anak-anak, ujarnya dengan suara gemetar.
Hingga malam hari, sejumlah pengungsi sementara ditampung di masjid dan gedung sekolah dasar di wilayah Tuweley. Data jumlah pengungsi dan dampak kerusakan masih dalam proses pendataan oleh tim gabungan.
Kondisi serupa juga terjadi di Desa Bajugan, Kecamatan Galang. Air dari sungai yang meluap memutus akses jalan utama desa dan membuat beberapa kendaraan terjebak. Beberapa fasilitas umum, termasuk jaringan listrik, sempat terganggu akibat genangan tinggi.
Situasi di lapangan, menurut laporan Pusdalops BPBD Provinsi Sulteng, masih dinyatakan siaga. Hujan masih mengguyur, dan potensi banjir susulan masih tinggi, tulis laporan tersebut.
Sementara itu, pihak BNPB di Jakarta dikabarkan telah menerima laporan resmi dan tengah memantau situasi melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops). Deputi Penanganan Darurat BNPB juga disebut menyiapkan opsi bantuan logistik jika situasi memburuk.
Gubernur Sulawesi Tengah Rusdy Mastura dilaporkan telah menginstruksikan seluruh jajaran terkait, termasuk Dinas Sosial dan Dinas Pangan, untuk bersiaga membantu warga terdampak. Fokus kita adalah keselamatan warga. Semua sumber daya harus digerakkan, ujar Gubernur melalui pesan singkat yang beredar di kalangan pejabat daerah.
Meski data kerugian belum dirilis, dampak ekonomi diperkirakan signifikan, mengingat kawasan yang terdampak merupakan sentra perdagangan dan perikanan di wilayah utara Tolitoli. Banyak warung dan toko dilaporkan tidak dapat beroperasi sejak sore.
Pihak BPBD mengingatkan warga agar tetap waspada dan tidak memaksakan diri kembali ke rumah sebelum kondisi benar-benar aman. Kami mohon warga bersabar. Tim masih terus memantau perkembangan dan menyiapkan evakuasi tambahan bila diperlukan, kata Rusmandi.
Malam semakin larut, namun aroma kekhawatiran masih menyelimuti udara lembap Tolitoli. Di tengah derasnya hujan dan dinginnya genangan air, para petugas dan relawan terus berjibaku membuktikan bahwa di tengah bencana, solidaritas tetap menjadi cahaya di gelap malam.
Komentar
Kirim Komentar