
Banjir Melanda 11 RW di Kelurahan Genuksari, Semarang
Di tengah hujan yang terus mengguyur Kota Semarang, sejumlah daerah cekungan masih terendam banjir. Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Kelurahan Genuksari, Kecamatan Genuk. Sebanyak 11 RW di wilayah ini tergenang dengan ketinggian yang bervariasi. Hal ini menyebabkan warga setempat kesulitan dalam beraktivitas sehari-hari.
Selain itu, banjir juga merendam ruas Jalan Kaligawe dari arah Semarang menuju Demak. Genangan air mulai dari Jalan Kaligawe Raya Sawah Besar hingga Simpang Terboyo membuat lalu lintas terganggu. Banyak kendaraan yang mogok akibat kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui.
Untuk membantu masyarakat yang kendaraannya terjebak, pihak kepolisian menyiapkan tali sling guna menarik kendaraan yang mogok. Proses penarikan dilakukan hingga mencapai titik aman dari genangan banjir. Tindakan ini bertujuan untuk menghindari risiko lebih besar bagi pengemudi dan penumpang kendaraan.
Upaya Pemerintah dalam Mengatasi Banjir
Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang turun tangan dengan mengerahkan puluhan pompa portabel untuk mengatasi genangan banjir di area Kaligawe dan Genuk. Selain itu, mesin pompa yang ada di rumah pompa milik Pemerintah Kota Semarang serta Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juwana di Kali Sringgin Genuk dan Kali Tenggang juga dioptimalkan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk mengerahkan seluruh mesin pompa. Pompa portabel juga ditempatkan di titik-titik genangan dan permukiman agar dapat memberikan dampak maksimal dalam mengatasi banjir.
Namun, upaya tersebut menghadapi beberapa kendala. Salah satunya adalah pembangunan tanggul laut yang belum memiliki pompa air. Selain itu, pembuatan tempat penampung air di kawasan Genuk juga belum selesai. Hal ini menyebabkan penanganan banjir menjadi lebih sulit.
Masalah Struktural yang Membuat Banjir Lebih Parah
Selain faktor alam, masalah struktural juga menjadi penyebab banjir yang terjadi di wilayah ini. Pembangunan infrastruktur yang kurang memadai menyebabkan drainase tidak berfungsi secara optimal. Akibatnya, air hujan tidak bisa segera terbuang dan menggenangi permukiman warga.
Selain itu, adanya perluasan pemukiman tanpa disertai peningkatan sistem drainase juga memperparah kondisi banjir. Beberapa daerah yang awalnya merupakan areal terbuka kini berubah menjadi permukiman padat penduduk. Hal ini menyebabkan aliran air terhambat dan genangan air semakin dalam.
Solusi yang Diharapkan
Dalam rangka mengatasi banjir yang terus terjadi, diperlukan solusi jangka panjang. Pemerintah daerah perlu meningkatkan investasi dalam pembangunan infrastruktur drainase dan sistem pengelolaan air. Selain itu, perlu adanya koordinasi antara instansi terkait untuk memastikan bahwa semua upaya penanggulangan banjir berjalan secara efektif dan terarah.
Masyarakat juga diharapkan untuk tetap waspada dan menjaga lingkungan sekitar. Memastikan saluran air tidak tersumbat oleh sampah atau limbah adalah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah banjir.
Dengan kombinasi upaya dari pemerintah dan masyarakat, diharapkan banjir yang terjadi di Semarang dapat segera diminimalisir dan tidak lagi menjadi ancaman serius bagi kehidupan warga.
Komentar
Kirim Komentar