6 Hal yang Membuat Anak Cemas Tanpa Disadari Orangtua

6 Hal yang Membuat Anak Cemas Tanpa Disadari Orangtua

Advertisement

Di Tengah Kecemasan yang Meningkat, Orangtua Harus Lebih Paham Perasaan Anak

Anak-anak kini menghadapi berbagai tantangan emosional yang semakin kompleks. Dengan berbagai faktor yang memengaruhi perkembangan mereka, kecemasan menjadi hal yang sering muncul tanpa disadari oleh orangtua. Para ahli parenting dan terapis anak seperti Ashley Graber dan Maria Evans menekankan bahwa penting bagi orangtua untuk memahami penyebab kecemasan anak agar bisa membantu mereka merasa lebih tenang.

Enam Hal yang Sering Menyebabkan Kecemasan pada Anak

Berikut adalah enam hal yang sering membuat anak merasa cemas, tetapi sering kali tidak disadari oleh orangtua:

  1. Dinamika Sosial di Lingkungan Pertemanan
    Anak mulai mencari jati diri dan peduli dengan pendapat teman sebaya. Keinginan untuk diterima dan disukai bisa menjadi sumber tekanan. Anak yang merasa berbeda, baik dari penampilan, minat, latar belakang budaya, atau ras, sering kali merasa takut dijauhi atau bahkan menjadi sasaran ejekan.

  2. Tekanan dari Media Sosial
    Kehadiran media sosial memperkuat dinamika sosial yang sudah kompleks. Banyak anak belajar membandingkan diri mereka melalui unggahan teman-teman mereka di platform digital. Tanpa pengawasan, kecemasan mereka meningkat karena mereka melihat kehidupan orang lain secara daring dan mungkin mulai merasa buruk tentang kehidupan mereka sendiri.

  3. Momen Perubahan dalam Hidup
    Pindah rumah, pindah sekolah, atau kehadiran adik baru bisa menjadi momen yang penuh campuran emosi. Sebelum anak bisa melihat sisi positif dari perubahan, mereka terkadang lebih dulu mengambil rasa negatifnya. Misalnya, sebelum mereka bisa menikmati kehadiran saudara baru, mereka mungkin merasa sedih karena tidak lagi menjadi anak tunggal.

  4. Jadwal yang Terlalu Padat
    Ketika setiap jam anak diisi dengan kegiatan akademik atau ekstrakurikuler, ruang untuk beristirahat menjadi sangat sempit. Waktu luang adalah bagian penting dari keseimbangan emosi anak. Pastikan Anda memberi anak waktu bermain, karena bermain bebas membantu anak memproses emosi dan memahami dunia di sekitarnya.

  5. Rutinitas yang Tidak Konsisten
    Bagi anak, kepastian adalah bentuk rasa aman. Perubahan mendadak dalam jadwal harian, atau janji yang tidak ditepati, dapat menimbulkan rasa cemas. Konsistensi sederhana, seperti menepati waktu menjemput, sangat berarti bagi anak.

  6. Pengalaman Traumatis
    Trauma tidak selalu berasal dari peristiwa besar. Terkadang, kejadian kecil, seperti digigit anjing, kecelakaan ringan, atau menyaksikan seseorang terluka, bisa mengguncang rasa aman anak. Tubuh anak akan terus siaga seolah-olah bahaya itu masih ada, sehingga mereka mudah terpicu untuk merasa ketakutan, terutama dengan hal-hal kecil yang mengingatkan pada peristiwa traumatis yang pernah terjadi.

Cara Membantu Anak Menemukan Ketenangan

Menurut Graber dan Evans, kunci untuk membantu anak mengatasi kecemasan bukan hanya menenangkan ketika mereka sedang panik, tetapi juga mengajarkan bagaimana menghadapi emosi di saat-saat tenang.

  1. Mengenali Perasaan yang Ada
    Mulailah dengan hal sederhana: ajak anak menamai perasaan yang sedang mereka rasakan. Dengan menyebutkan emosi, seperti marah, takut, atau sedih, anak belajar bahwa perasaan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Saat anak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan, beban itu mulai berkurang.

  2. Latih Pernapasan Sebelum Tidur
    Ketenangan juga bisa dilatih lewat pernapasan bersama. Graber menganjurkan agar orangtua meluangkan waktu beberapa menit sebelum tidur untuk mengambil napas dalam bersama anak, sambil meletakkan tangan di perut. Evans menambahkan pentingnya membangun dialog positif di kepala anak melalui kalimat afirmatif, seperti aku bisa melewatinya atau perasaan ini akan berlalu.

  3. Berikan Waktu Khusus untuk Anak
    Konsep worry window atau waktu khusus untuk mencemaskan sesuatu bisa membantu anak meredakan kekhawatiran. Atur waktu untuk anak selama beberapa menit. Anak boleh menumpahkan kekhawatirannya, berteriak, menulis, atau bercerita sampai waktunya habis. Keduanya percaya bahwa membantu anak menghadapi rasa cemas bukan hanya tentang menenangkan, tetapi juga tentang membangun rasa percaya. Ketika anak merasa didengar dan dipahami, mereka belajar bahwa setiap perasaan layak untuk diterima, dari sanalah ketenangan akan tumbuh.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar