
Penyelundupan BBM 500 Liter dari NTT ke Timor Leste Mengungkap Masalah di Wilayah Perbatasan
Kepolisian Timor Leste baru-baru ini menangkap seorang warga negara Indonesia (WNI) yang diduga terlibat dalam penyelundupan 500 liter bahan bakar minyak (BBM) dari wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Kejadian ini memicu perhatian dari para pemerhati perbatasan, termasuk Fauzan, PhD, dari UPN Veteran Yogyakarta.
Menurut Fauzan, kasus seperti ini sering terjadi akibat adanya masalah di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) atau jalur ilegal lainnya. Ia menilai pentingnya dilakukan pengecekan lebih lanjut, khususnya pada jalur yang biasanya digunakan untuk menyelundupkan barang ilegal.
Jika barang tersebut melewati PLBN, kemungkinan besar ketidaktelitian dari petugas bisa menjadi penyebabnya. "Apakah pengecekan secara langsung atau ada indikasi scammer, ataupun surat-suratnya sesuai dengan daftar yang diberikan. Jika sampai lolos, itu berarti ada problem. Apakah petugas tidak teliti, tidak mengikuti prosedur, atau kurang detail," ujar Fauzan.
Selain itu, faktor lain yang menyebabkan penyelundupan adalah adanya oknum petugas yang tidak bertanggung jawab. Fauzan menekankan bahwa wilayah NTT dan Timor Leste memiliki godaan lebih besar karena nilai tukar dollar yang tinggi. "Harga pertalite di sini sekitar Rp 10 ribu, sedangkan di Timor Leste hanya 1,9 dollar. Itu sangat menggiurkan," katanya.
Fauzan juga menyebut bahwa penyelundupan bukan hanya terjadi di NTT ke Timor Leste, tetapi juga di perbatasan lain seperti Kalimantan dan Papua. Bahkan, kasus ini tidak hanya melibatkan petugas PLBN, tetapi juga aparat keamanan.
Ia menyayangkan jika penyelundupan BBM 500 liter ini melalui jalur resmi. "Permainan antara petugas, masyarakat, atau pengusaha nakal sering terjadi. Saya mendorong agar pengetatan kawasan perbatasan dilakukan, meskipun jangkauan petugas terbatas karena wilayah yang luas," kata Fauzan.
Ia menegaskan bahwa komitmen pemerintah dan petugas keamanan harus dikedepankan. Dengan begitu, kegiatan ilegal di wilayah perbatasan bisa diminimalisir. Fauzan menilai bahwa penyelundupan BBM 500 liter ini seharusnya bisa diketahui oleh petugas, karena BBM terlihat secara fisik.
"Kalau barang itu melewati jalur resmi, itu agak aneh. Apakah persoalan formulir ekspor tidak sesuai dengan isi, atau ada kesalahan informasi. Petugas seharusnya melakukan pemeriksaan langsung," ujarnya.
Fauzan juga menyebut bahwa kadang petugas di PLBN atau di lapangan berhadapan dengan kekuatan lain yang memaksa agar barang bisa diloloskan. "Petugas sering kali menghadapi tekanan dari pihak lain. Di lapangan seperti itu, situasi sulit dihindari. Ada faktor X yang memengaruhi," katanya.
Dari sisi sumber daya manusia maupun standar pengecekan, Fauzan menilai bahwa sistem sudah cukup baik. Namun, kondisi lapangan sering kali menghadapi permainan antara petugas dan pihak lain. Ia menyoroti bahwa pembangunan pagar perbatasan oleh Indonesia sangat mahal, terutama karena topografi wilayah yang berbeda.
Sisi lain, ikatan budaya masyarakat perbatasan masih kuat, sehingga situasi ini menjadi dilematis. "Namun, hal ini juga sering dimanfaatkan oleh oknum tertentu, terutama karena nilai dollar yang sangat menggiurkan," tambahnya.
Fauzan menyerukan aktivasi Garda Batas yang melibatkan tokoh masyarakat, pemuda, dan petugas lainnya. Ia menilai lembaga ini bisa memberi ruang untuk membantu menjaga wilayah perbatasan. "Garda Batas memiliki peran penting dalam memberikan informasi. Kehadirannya bisa mengisi kelonggaran wilayah perbatasan yang cukup luas, terutama di perbatasan NTT dan Timor Leste," ujarnya.
Komentar
Kirim Komentar